Digital clock

nuffnang

Monday, 3 June 2013

Emosi Seorang Jantan Kepingin


Termenung aku di hujung katil ini,
mengenangkan diri yang selalu sepi,
bilakah dapat aku memeluk seorang wanita,
samada janda, dara, tua atau bohsia,
hendak berkahwin tidak lah termampu kini,
hanya memainkan batangku dengan jari jemari,
sehingga terpancut keluar membasahi cadar katil tua,
dengan keremot muka yang masih belum puas.
Hari berlalu bulan menjelma,
tidak tertahan rasanya di hati dan jiwa,
asyik menggenggam batang dengan tangan kasarku,
lemah longlai tubuh tanpa kepuasan yang terhingga,
terbayang selalu semasa menerat batang,
mengucup dan berkulum lidah seorang perawan,
menjilat kedua-dua pepejal daging yang gah menegang,
mengigit puting keras tapi lembut,
merah delima menggeram gigi,
semakin kuat di nyonyot dan di picit-picit.
Puas gunug di teroka,
layangan fikiran semakin ke bawah,
sambil tangan semakin laju mengayak,
batangku yang di selubungi air nipis,
sesekali terasa kepedihan,
alangkah enaknya kalau perawan,
menggiat mengganti jariku.
Ku jilat perut terus ke pusat,
menjelajah terus lidahku ke bulu-bulu lebat menghitam,
menggeliat si dia mungkin kegelian,
dan kenikmatan sentuhan lidahku,
terus menari lidahku ke bibir karipap sempitnya,
kugigit-gigit perlahan,
sambil menyedut perlahan.
Ku jilat, ku sedut, ke nyoyot seluruh karipap,
air jernih melimpah ruah,
masam, kelat, masin tidak terasa,
cuma manis dan lemak belaka,
habis semua aku belasah.
Bilakah,
Lemang kerasku di mainkan lidah nan lembut,
Di kulum di nyonyo, habis-habisan,
Indah dan nikmatnya di perlakukan begitu,
Tapi sayang, jari jemariku juga yang masih mengenggam.
Hunusan lemangku tepat ke kelopak berair,
Bersedia menujah melayahri bahtera,
Di tujah sedikit demi sedikit,
Di iringi suara ngerang dan rintihan,
Kesedapan di buai pasangan jelitaku,
Sorong tarik persis mengepam angin,
Diselimuti air yang semakin menabur,
Bunyi - bunyian kelocak himpitan,
Sungguh indah bak orkestra beralun.
Berbagai cara berbagai ragam,
Kami melayari bahtera nan satu,
Layanganku terus melayang,
Semakin erat genggaman jariku,
Semakin keras buluh lemang,
Sampai ketika memuncak dirasa,
Melepaskan tembakan yang jitu,
Membasahi cadar usang.
Lentuklah aku bersama lemangku,
Terkulai layu jari menyidai
kaku terbaring mengenangkan semua,
Bilakah dapat merasa,
Kenikmatan yang betul dialam maya,
Yang betul - betul didepan mata,
Bukan hanya jariku yang berlima,
menghentak keras mengusap lemang.
Bilakah........?
Terus menghantui....!!!

No comments:

Post a Comment